Persisnya tahun 1999 aku mulai menjadi seorang mahasiswa, semester 1, 2, dan selanjutnya aku lalui pulang pergi dari kos2an ke kampus dengan jalan kaki, panas, hujan, jauh, naik turun jalan kampung, maklum kampusku diperbukitan, kalau sedang musim hujan tanah merah, licin, tanahnya nempel semua di sepatu, sampai kampus, lantaipun turut serta menjadi kotor, jika sedang musim panas, musim praktek, aku membawa beberapa peralatan praktek dari kos2an ke kampus, lumayan berat, malu pula ( kira2 dapat dibayangkan, jurusan tata boga, apa saja peralatan yang dibawa ?? ), bagaimana ngga malu, lewat kos2an pria ... bawaannya ... segala peralatan dapur, makanan diplastik kresek, dll ( jadi emak rempong ).
dari kejadian ini... aku coba lobi bapakku, aku minta dibawakan motor, untuk mobilisasi aku ke kampus, dan urusan akademis lainnya, tapi hal ini dilarang oleh bapakku, sama halnya dulu saat aku di pesantren, aku minta dibawakan kasur lipat, tidak diijinkan oleh bapakku, ya sudahlah, mungkin bapakku ingin mengajarkan aku menjadi sosok yang tidak manja, mandiri, dan kuat menghadapi segala resiko. Tengkyu Bapak, atas pembelajarannya kali ini.
Ini dia, kampusku sudah makin cantik sekarang
Sebenarnya banyak sekali cerita, suka duka di kampus dan kos2an, aku hanya dapat cerita sedikit saja yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang. kadang aku bersama teman kos2anku masak sendiri, kalau sedang malas masak terpaksa beli di warung, langgananku adalah warung Pak Sholeh di gang cempaka ( masih eksis ngga ya kira2 sekarang ? ).Aku sekamar dengan Mbak Prapti, dia orangnya baik banget, sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, nyuci bersama, makan bersama, tidur bersama, cerita, ngobrol, sedih, senang, suka, duka, dll.
Eee.. ya .. aku ingat !! aku punya cerita lucu, suatu ketika aku dan Mbak Purwi hendak pulang ke kampung, kami naik kereta kaligung ekspres, karena keretanya telat, kami sampai BT banget, nunggunya dari siang sampai jam 8 malam, akhirnya penantian kami pun berakhir, datanglah kereta yang kami tunggu2 " kaligung ekspress ", penumpang berebut untuk mencari tempat duduk. Lalu apa yang terjadi setelah kami ada di dalam kereta ? hujan deras di luar sana, sebenarnya aku merasa takut, walaupun banyak penumpang perempuan, tapi ngeri juga, jalan malam di dalam kereta, hujan deras disertai petir, dan yang paling menggemaskan, di tempat kami duduk ( duduk lesehan di bawah ) atap keretanya bocor, kami kehujanan di dalam kereta, karna memang sedang musim hujan. Untung saja aku bawa payung, aku pakailah itu payung di dalam gerbong kereta, padahal tidak ada satu penumpangpun yang pakai payung di dalam gerbong, hanya aku saja.. iyaa.. aku saja.. ??!! bisa dibayangkan malunya seperti apa ? aku kehujanan di dalam gerbong kereta, baju basah kuyup, pakai payung, sudah seperti topeng monyet saja, hahaha....
Sarannya sih buat pengelola KAI, perlu diperhatikan kenyamanan penumpang. Semoga sekarang ngga ada lagi kasus sepertiku ini. Gimana ? lucu ngga ceritaku ini ? atau menyedihkan ? di heppi in aja deeh... hehehe..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar